top of page

Merubah Kekerasan Ospek Mahasiswa?

  • Aug 22, 2016
  • 2 min read

Panitia mensortir buku donasi || sumber : dok. Social Designee

Kekerasan fisik, kekerasan mental, ornamen tidak wajar, hingga hukuman fisik yang berujung pada kematian seringkali mewarnai kegiatan ospek di Indonesia. Hal ini menjadi pertanyaan bagi seluruh mahasiswa, apakah pantas jika kegiatan yang seharusnya memperkenalkan mahasiswa pada lingkungan studi malah beralih menjadi perkenalan akan praktik kekerasan? Dapatkah kegiatan ospek diubah untuk memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitar lingkungan kampus?

Pada tanggal 22 Agustus 2016 serombongan mahasiswa baru (maba) terlihat melangkah untuk melaksanakan orientasi studi dan pengenalan kampus atau disingkat dengan sebutan ospek. Rombongan maba terlihat mengenakan polo putih polos, celana jeans hitam, sepatu kets, serta mengenakan tas serut. Tidak terlihat ornamen maupun atribut yang tidak wajar pada peserta ospek tersebut. Namun yang menarik adalah para maba terlihat membawa setumpuk buku bacaan bersama mereka. Sesampainya di depan gerbang kampus, buku tersebut dikumpulkan kepada panitia sebelum maba diizinkan untuk mengikuti rangkaian ospek.

“Buku ini dikumpulkan oleh seluruh maba sebagai syarat untuk mengikuti ospek, kemudian buku ini akan didonasikan untuk membangun taman baca sebagai pelaksanaan dari kegiatan ospek dimana mahasiswa mampu berbagi untuk membangun negeri.” Ungkap panitia.

Ternyata kontroversi kekerasan dalam ospek dapat dijawab oleh Universitas Multimedia Nusantara (UMN) dengan ospek bertajuk “Muda, Merdeka, Berkarya.” Selain mahasiswa dapat melaksanakan orientasi dengan ornamen yang wajar, maba juga diajak turut berkontribusi untuk membangun negeri. Aktivitas ini secara tidak langsung telah menanamkan nilai ketiga Tri Dharma perguruan tinggi yaitu pengabdian kepada masyarakat.

Melalui kegiatan ospek tersebut, UMN mampu mengumpulkan hingga 800 buku bacaan. Buku tersebut selanjutnya akan disumbangkan kepada SDN Leuwiranji 02 kecamatan Rumpin, desa Curug Wetan, komunitas HOPE, serta komunitas Anak Langit. Buku tersebut akan disalurkan melalui perantaraan tiga komunitas sosial yang aktif beroperasi dalam universitas tersebut. Rencang, Untuk Rumpin, serta Social Designee.

Kegiatan ospek “Muda, Merdeka, Berkarya” merupakan salah satu bukti kegiatan ospek yang dengan wajar memperkenalkan mahasiswa kepada lingkungan studinya. Sekaligus juga membentuk karakter mahasiswa serta memberikan kontribusi yang positif pada masyarakat. Nah, sudah siapkah kita untuk membawa perubahan pada sistem orientasi kita menjadi bermanfaat bagi masyarakat sekitar?

Salam,

Mahasiswa Sosial

-Social Designee socialdesignee.wix.com/sosignee Facebook : facebook.com/socialdesignee/ Instagram : instagram.com/socialdesignee/ Twitter : twitter.com/socialdesignee/

Comments


Recent Posts
Archive
bottom of page